Model Standalone OJS dengan dukungan Web Application Firewall (WAF) merupakan pendekatan pengelolaan jurnal yang paling umum digunakan di banyak perguruan tinggi. Dalam model ini, Open Journal Systems (OJS) berfungsi sebagai sistem editorial sekaligus sebagai frontpage publik jurnal. Seluruh proses, mulai dari pengelolaan naskah hingga diseminasi artikel, berada dalam satu platform aplikasi. Pendekatan ini dipilih karena kesederhanaan arsitekturnya. Pengelola jurnal hanya berinteraksi dengan satu sistem utama. Proses pelatihan, dokumentasi, dan operasional menjadi relatif lebih mudah. Hal ini menjadikan model ini populer, khususnya pada fase awal pengembangan jurnal.
Untuk mengatasi risiko keamanan, model ini diperkuat dengan Web Application Firewall. WAF ditempatkan sebagai lapisan proteksi di depan aplikasi OJS. Fungsinya adalah menyaring lalu lintas berbahaya sebelum mencapai aplikasi inti. Dengan demikian, keamanan ditingkatkan tanpa mengubah arsitektur dasar OJS. Model ini digunakan sebagai salah satu pola tata kelola jurnal di Universitas Jember. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi unit yang membutuhkan solusi cepat dan mandiri. Namun, penerapannya perlu dipahami dalam kerangka risiko jangka panjang.
Keunggulan utama model ini terletak pada kesederhanaan implementasi. Seluruh fungsi jurnal berada dalam satu sistem yang terintegrasi secara native. Pengelola jurnal tidak perlu mengelola sinkronisasi lintas platform. Hal ini mengurangi kompleksitas operasional sehari-hari. Integrasi fitur OJS berjalan secara penuh tanpa penyesuaian tambahan. Seluruh halaman artikel, metadata, dan alur navigasi dihasilkan langsung oleh sistem. Risiko ketidaksesuaian data relatif kecil selama aplikasi berjalan normal. Model ini mendukung penggunaan standar OJS secara utuh.
Penerapan WAF memberikan peningkatan keamanan pada level jaringan. Serangan umum seperti brute force, SQL injection, dan XSS dapat disaring secara otomatis. WAF berperan sebagai garis pertahanan pertama terhadap serangan massal dan bot. Ini meningkatkan perlindungan dasar sistem. Dari sisi biaya awal, model ini relatif lebih efisien. Tidak diperlukan pengembangan sistem tambahan seperti frontpage statis atau gateway metadata. Infrastruktur yang dibutuhkan lebih sederhana. Hal ini menjadi pertimbangan penting bagi jurnal dengan sumber daya terbatas. Selain itu, model ini mudah direplikasi untuk jurnal baru. Pola instalasi dan pengelolaan relatif seragam. Universitas dapat memperluas jumlah jurnal dengan cepat menggunakan pendekatan ini.
Dengan harga WAF yang terbilang mahal, tidak semua universitas mempunyai infrastruktur WAF. Meskipun diperkuat dengan WAF, model Standalone OJS tetap memiliki permukaan serangan yang luas. Seluruh endpoint OJS terbuka ke publik, termasuk modul dan plugin. Apabila terdapat celah pada aplikasi, WAF tidak selalu mampu mendeteksi eksploitasi spesifik. Risiko tetap berada pada lapisan aplikasi. Ketergantungan penuh pada OJS menjadi kelemahan utama model ini. Gangguan pada aplikasi berdampak langsung pada seluruh layanan jurnal. Artikel yang telah terbit dapat menjadi tidak dapat diakses. Kondisi ini berpotensi memengaruhi reputasi akademik institusi.
Risiko meningkat ketika dilakukan pembaruan lintas versi mayor OJS. Perubahan struktur basis data sering kali menimbulkan masalah kompatibilitas. Proses upgrade membutuhkan kehati-hatian tinggi dan sumber daya teknis yang memadai. Downtime menjadi risiko yang nyata. Selain itu, beban server meningkat karena seluruh trafik publik diarahkan ke OJS. Aktivitas pembaca, crawler indeksasi, dan bot mengonsumsi sumber daya aplikasi. Hal ini menuntut kapasitas server yang lebih besar. Skalabilitas menjadi tantangan. Dalam jangka panjang, model ini cenderung bersifat reaktif terhadap masalah. Keamanan dan stabilitas bergantung pada pembaruan dan patch rutin. Pendekatan struktural untuk mengurangi risiko relatif terbatas.
Model Standalone OJS memberikan otonomi tinggi kepada masing-masing jurnal. Setiap jurnal dapat mengelola sistemnya secara mandiri. Hal ini memberikan fleksibilitas, tetapi juga menimbulkan variasi praktik pengelolaan. Variasi konfigurasi antar jurnal menyulitkan standarisasi keamanan dan operasional. Rumah Jurnal UNEJ harus menangani banyak pola konfigurasi berbeda. Beban dukungan teknis meningkat. Konsistensi kebijakan menjadi sulit dijaga.
Model ini juga menempatkan tanggung jawab keamanan cukup besar pada pengelola jurnal. Kesalahan konfigurasi dapat membuka celah serius. Tidak semua pengelola memiliki latar belakang teknis yang memadai. Risiko human error meningkat. Dalam konteks audit dan kepatuhan, model ini memerlukan pengawasan yang lebih intensif. Setiap instance OJS harus dievaluasi secara terpisah. Proses audit menjadi lebih kompleks. Hal ini berdampak pada efisiensi institusional. Meskipun demikian, model ini masih relevan dalam kondisi tertentu. Terutama untuk jurnal dengan kebutuhan khusus atau fase awal pengembangan. Kebijakan universitas perlu mengatur batasan penerapannya.
Model Standalone OJS dengan dukungan WAF merupakan pendekatan yang pragmatis dan mudah diterapkan. Keunggulannya terletak pada kesederhanaan, integrasi penuh, dan efisiensi awal. Model ini cocok untuk kebutuhan jangka pendek atau skala terbatas. Namun, dari perspektif jangka panjang, model ini memiliki risiko struktural yang signifikan. Ketergantungan penuh pada OJS meningkatkan dampak gangguan sistem. WAF memberikan perlindungan penting, tetapi tidak menghilangkan risiko aplikasi secara menyeluruh.
Dalam kerangka kebijakan Universitas Jember, Model 1 perlu diposisikan secara tepat. Ia dapat digunakan sebagai salah satu opsi tata kelola, bukan sebagai satu-satunya standar institusional. Penggunaan perlu disertai pengawasan dan pembatasan yang jelas. Kebijakan universitas dapat menetapkan Tata kelola model 1 sebagai solusi transisional atau alternatif. Untuk kebutuhan jangka panjang dan skala besar, diperlukan pendekatan yang lebih struktural agar keberlanjutan jurnal dapat dijaga.